[Cermin No. 6] I Am You

Tittle :
"I AM YOU."
Tokoh : Tsabina Adelia, Dharka Macias.
"Aku adalah kamu, karena aku melihat diriku dalam dirimu."
-----

-----
Gadis berambut lurus sepunggung itu berlari menerobos lorong sebuah gedung tempat di mana orang-orang menerima sebuah keputusan mutlak. Sebuah pengadilan.
Bukan, Adel bukan ke sana untuk bermain-main. Ia juga tidak seluang itu untuk melihat sidang para napi di meja hijau. Dia juga bukan datang ke pengadilan umum melainkan ke pengadilan agama.
Adel membuka pintu ruang sidang dengan napas memburu. Matanya berpendar, mencari-cari sosok yang membuatnya panik setengah mati. Perlahan ia berjalan mendekat ke arah sosok yang memandang lurus ke arah depan, ke arah dua kursi yang bersebelahan di mana duduk dua orang yang dulunya saling menebarkan kasih sayang satu sama lain.
Kini, keduanya bahkan enggan untuk saling bertukar pandang. Miris.
Sosok itu bahkan tidak sadar jika Adel sudah menduduki kursi kosong di sebelahnya. Adel menghela napas pelan, dengan lembut ia meraih tangan sosok itu untuk digenggam.
Begitu ia merasakan ada sebuah telapak halus yang membungkus tangan dinginnya, sosok itu pun menolehkan kepala ke arah Adel. "Hai, Dharka?" sapa Adel, berusaha tersenyum ke arah Dharka yang memasang wajah datar.
Mata Adel berkeliling sejenak, memerhatikan sekitar sebelum kembali fokus ke arah Dharka yang masih membatu di posisinya. "Kamu nggak bilang sama aku kalau kamu mau datang ke sini. Aku kaget," ujar Adelia sebal.
Gadis itu merasakan genggaman di tangannya mengerat, seiring dengan tatapan Dharka yang kembali fokus ke arah depan. Memerhatikan orang tuanya saling membuang wajah dengan ekspresi muak seolah ingin segera enyah dari sana.
"Nggak bilang pun, kursi di sebelahku tetep kamu yang isi," jawabnya datar.
"Dengan ini kami memutuskan bahwa Saudari Diandra Darmawan resmi bercerai dengan Saudara Gifano Macias."
Genggaman tangan itu segera Adel lepaskan, digantikannya dengan sebuah pelukan hangat. Membawa kepala lelaki itu untuk bersandar di bahu kecilnya. "You'll be alright, Dharka," lirih gadis itu pelan.
Dharka menghela napas pasrah, lantas memeluk pinggang Adel sedikit lebih erat. "I'm not sure," jawabnya pelan. Mereka bahkan tidak peduli lagi jika banyak mata yang memandang ke arah mereka saat ini. Flash kamera yang menyala dan seruan-seruan lain yang sama sekali tak ingin Dharka dengar kelanjutannya.
Orang tua Dharka memang bukan orang yang biasa saja. Ibunya adalah seorang public figure dan ayahnya pun seorang politikus.
Tanpa pikir panjang Adel melepaskan pelukannya dan menangkup kedua pipi lelaki itu dengan lembut. "Ayo keluar dari sini. Aku akan buat kamu bahagia hari ini!" seru Adel dengan semangat dan berusaha menunjukkan cengiran manisnya.
Gadis itu segera menarik tangan Dharka, membawanya keluar dari ruang sidang tanpa memberikan sedikit pun kesempatan untuk para reporter mengejar mereka.
ו×
Adel sebenarnya tidak punya ide ingin pergi ke mana dengan lelaki itu. Maka dari itu saat ia melihat Adel mengerutkan bibirnya — gerakan khas yang dilakukan gadis itu saat sedang bingung — membuat Dharka bereaksi mengacak-acak rambutnya.
Jadilah mereka tidak pergi ke mana-mana, hanya saja mereka berakhir dengan posisi Dharka yang berbaring sambil menutup matanya di atas paha Adel di sebuah rumah pohon tempat mereka biasa bermain dan menyembunyikan diri dari dunia luar.
Rumah pohon itu adalah milik mereka berdua, walau pun yang mereka lakukan hanya membuat design dan orang tua mereka lah yang menyuruh tukang untuk membuatnya. Tapi rumah pohon itu memang didedikasikan untuk mereka.
Mereka adalah salah satu contoh hasil perjodohan yang boleh dikatakan berhasil. Entah bagaimana kelanjutan perjodohan itu setelah kedua orang Dharka berpisah, yang pasti lelaki itu tidak mau dan tidak akan melepaskan Adel begitu saja.
Dharka masih tetap memejamkan matanya bahkan ketika Adel mendaratkan kecupan ringan di dahinya. Gadis itu memainkan rambut legamnya dengan tangan kiri, sedang tangan kanannya sejak tadi sudah digenggam erat oleh Dharka.
"Dharka ...," panggil Adel pelan. Nyaris terdengar seperti bisikan. Sementara laki-laki itu bergerak pun tidak.
Mau tahu bagaimana perasaan Dharka sekarang? Hancur? Jelas. Hati anak mana yang tidak hancur melihat perceraian kedua orangtuanya?
Helaan napas berat Adel mengisi keheningan di dalam kubikel sempit itu. Usapan di pangkal rambut Dharka tetap berlanjut, hingga Adel kembali bersuara, "Kamu gak mau nangis?"
Hanya genggaman tangan yang terasa semakin erat. Lelaki itu masih betah membuat dirinya sendiri seperti replika sebuah batu. "Aku paham, Dharka. Jangan ditahan," sambung Adel, tak menyerah dengan sifat acuh lelakinya.
"Lagipula, di sini gak ada orang, jadi gak akan ada yang ngeliat kamu nangis," imbuhnya lagi.
Dharka berdecak. "Berisik, Bina," gerutunya, seolah merasa tengah diganggu oleh gadis berharganya itu. Sampai saat Dharka memiringkan tubuhnya. Memeluk pinggang Adel erat. Menyembunyikan wajahnya pada perut datar gadis itu.
Pikir Adel, Dharka hanya berusaha membenarkan posisi tidurnya.
Namun semua pikiran itu luntur saat ia merasakan serat kain yang membalut perutnya mulai basah. Seiring dengan isakan kecil yang tertahan di kerongkongan lelaki itu. Membuatnya serasa ingin mati, merasakan tenggorokannya tercekat tangisnya sendiri.
Adel tersenyum sendu. Segera saja membungkukkan tulang punggungnya, menukik tajam demi meraih bahu Dharka yang diserang tremor hebat. Tepat saat isakan lelaki itu mulai pecah.
Kepala gadis itu mendongak ke atas. Berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis, menjadi sosok yang kuat bagi Dharka yang sedang hancur. Mencoba menjadi sosok yang bisa diandalkan bagi lelaki itu untuk bernaung.
Untuk menopang tubuh lelaki itu agar tidak terjatuh.
Namun, sekuat apa pun Adel berupaya. Selama apa pun kepalanya mendongak hingga tulang lehernya patah sekali pun, air mata itu tetap merembes dari kelopak matanya yang terpejam erat.
Kontemplasi otaknya dipaksa untuk bekerja lebih keras. Memikirkan beban berat yang siap menimpa bahu tegap lelaki itu setelah perpisahan orangtuanya.
"Dharka, maaf," lirih Adel pelan. Suaranya bahkan sudah terdengar sengau. Tangannya sejak tadi tak berhenti bekerja, mengusap pelan bahu lelaki itu. Mencoba menyalurkan ketenangan melalui usapannya. "Aku gak bisa lebih kuat dari kamu saat kamu kayak gini. Maafin aku, Dharka," imbuhnya, lengkap dengan air mata yang kembali menganak sungai di kedua pipi.
Setelah melewati bermenit-menit dalam suasana mendayu, tangis Dharka perlahan mulai surut. Lelaki itu berdecak pelan sesaat setelah ia meregangkan pelukannya dan memundurkan wajah. Mendapati helai pakaian gadis itu basah karena ulahnya.
Adel yang mengikuti ke mana arah pandangan lelaki itu tertuju hanya bisa meringis. Tangan gadis itu terangkat. Mengibaskan udara di depan wajah, "Eii~ cuma basah sedikit aja kok!" sangkalnya cepat.
Dharka lekas bangkit. Membenarkan posisi duduknya di sebelah gadis itu. Memandang wajah yang sepertinya tidak berbeda jauh dengan keadaan wajahnya. Mengingat mereka sama-sama menangis meraung-raung, wajar jika wajah mereka bengkak dengan kondisi mata yang bengap.
"Jangan nangis," titah Dharka pada Adel.
Tidak tahu diri? Iya! Padahal dirinya sendiri pun menangis tak kalah keras dari gadis itu. Sontak saja hal itu mengundang bibir Adel untuk kembali mengkerut. Tangannya langsung terulur demi mendaratkan sebuah pukulan pelan pada lengan lelaki itu. "Kamu yang nangis duluan tahu!" elaknya secepat kilat.
Sekarang giliran Dharka yang mencibir. "Tadi siapa coba yang nyuruh aku buat nangis?" balasnya lagi, sama sekali tidak kehilangan akal.
Bola mata Adel tergerak. Berotasi begitu saja setelah mendengar sanggahan lelaki itu. "Aku tuh gak ada nyuruh kamu ya! Itu tadi aku cuma tanya tahu!"
Kali ini Dharka hanya diam saja. Memandang gadis itu lekat hingga membuat objek yang ditatap menjadi salah tingkah.
"Maaf, Bina," ucapnya pelan, jauh sekali dari topik pembicaraan sebelumnya. "Maaf karena lagi-lagi aku nunjukin sisi lemahku di depan kamu kayak tadi. Aku gak tahu kenapa, tapi cuma di depan kamu aku bisa nunjukin segalanya. Termasuk kelemahanku."
Adel segera memalingkan wajah. Menghindari tatapan Dharka yang menghujamnya tanpa ampun. Lantas berdeham pelan sebelum menjawab, "Kamu gak sendirian, Dharka. Pikirmu selama ini aku punya berapa ekspresi saat ketemu orang-orang?"
"Iya, maaf."
Hening sekali lagi.
Sampai Dharka berdeham pelan hingga mengundang Adel untuk menatapnya. "Peluk, boleh?" gumamnya.
Adel terkekeh pelan, membuka kedua lengannya lebar-lebar untuk disambut oleh Dharka. "Memangnya sejak kapan kamu perlu izin kayak gini sih?"
Wajah rupawan lelaki itu menyusup semakin dalam pada rambut Adel, menempelkan hidungnya pada ceruk leher gadis itu. Menghirup aromanya sebanyak yang ia bisa hingga rasanya seperti orang mabuk. "Takut. Aku takut kamu marah karena aku udah basahin baju kamu," gumamnya.
"Bercanda ya kamu?" Adel merajuk, dengan tangan yang masih Setia menepuk-nepuk bahu Dharka.
Dharka tersenyum. Senyum yang pertama setelah melalui hari yang panjang. Bibirnya ia gunakan untuk mengecup pelan kulit leher Adel. "Thank you. For stay by my side. You always be me, and i always gonna be you."
Senyum Adel kembali terbit. Tangannya berpindah tugas mengusap rambut Dharka. "Yes, Dharka. It's because you are me, and i am you."
-----
Cermin no. 6
Tamat

Comments

Post a Comment