[Cermin No. 5] Look

Tittle:
"LOOK."
Tokoh utama : Agatha Lascrea, Real Monata.
"Aku hanya ingin menemukan diriku di matamu."
-----

-----
Bagaimana baiknya Rea menghadapi hari-hari yang berat di kampusnya? Sebenarnya ia sudah cukup lelah dengan segala macam tugas dan antek-anteknya, tapi ada hal lain lagi yang mengganggu pikirannya akhir-akhir ini.
Gadis dengan warna rambut selembut karamel itu berjalan dengan fokus yang berpencar ke segala arah. Pikirannya seperti akan meledak sebentar lagi. Hanya perlu menunggu waktu sampai tiba-tiba sebuah tangan hangat membungkus telapak tangannya yang bebas.
Lekas, ia menolehkan kepalanya kepada siapa pun orang kurang ajar yang seenaknya menggenggam tangannya saat ini. Nahas, karena orang yang nyaris membuat kepalanya meledaklah yang melakukan perbuatan itu kepadanya saat ini.
"Hello, Dear," sapanya ceria. Lebih ceria dari bocah berumur lima tahun yang dibelikan lolipop oleh mamanya. "How was your day?"
Rea berusaha tak peduli, ia bahkan membiarkan saja lelaki itu terus menggenggam tangannya dan berjalan beriringan dengannya sepanjang koridor. Oke, Rea sedikit lupa dengan fakta bahwa pria dengan senyumannya yang lebih hangat dari sinar mentari pagi itu bukanlah orang yang memiliki reputasi biasa-biasa saja di kampus ini.
"Bisa lepasin tangan kamu gak, Real?" tanyanya dengan suara selembut mungkin, walau pria bernama Real itu masih bisa mendengar nada lelah dari penuturannya.
Dahi Real mengernyit halus, alisnya bahkan tertaut setelah mendengar permintaan Rea beberapa detik lalu. Sebenarnya gadis itu sedang ada masalah apa? Tidak mungkin karena ia sedang dalam masa periode bulanannya, kan?
"Hm, i won't," balas Real dan semakin menarik tangan Rea meninggalkan kerumunan mahasiswa yang menatap ke arah mereka dengan berbagai macam pandangannya.
Yeah, pada akhirnya Real memang melakukan segala hal sesuka hatinya, walau pun Rea sudah memintanya untuk berhenti.
-----
Tangan Real belum terlepas bahkan setelah mereka mendudukkan diri di bawah pohon rindang di kawasan kampus yang luas. Mata Real tak lepas memandang siluet wajah Rea yang terpatri sempurna di depan wajahnya. Yah, bagi Real, Rea adalah sebuah mahakarya dan itu tak bisa dibantah oleh siapa pun.
Helaan napas berat Rea terdengar begitu jelas memenuhi telinga Real. Maksudnya, what the hell is she doing right now? Mengabaikan pria sekeren dirinya tepat di depan mata seperti ini? Beraninya dia!
"Rea, sebenarnya apa yang sedang kamu lihat saat aku berada tepat di sebelah kamu sekarang?" cetus Real karena sudah tak mampu menahan diri lagi. "Hey, look, aku bener-bener ada di depan kamu sekarang, so please being focus on me."
Berhasil. Rea merotasikan matanya ke arah Real yang sedikit frustasi karena tingkahnya hari ini. "Apa?" balas Rea terdengar begitu malas.
Sejenak mata mereka saling bertukar pandangan. "Kamu kenapa? Ada yang ganggu pikiran kamu?" Real menuturkan pertanyaan itu begitu saja saat ia merasa yakin ada sesuatu yang mengganggu Rea saat ini.
Sekarang Rea bingung harus menjawab apa terhadap sebuah pertanyaan sederhana ini. Karena satu-satunya hal yang mengganggu pikirannya saat ini adalah dirinya sendiri, dan tidak mungkin baginya untuk mengatakan hal itu kepada pria sepertinya. "Tidak ada," balasnya pada akhirnya.
"Freaking liar," cibir Real. Lelaki itu dengan sigap meraih kedua bahu kecil Rea dan mengarahkan tubuh gadis itu untuk menghadapnya. "Kamu gak sadar kalau pandangan kamu itu ... yah, kelihatan rumit di mataku."
Lagi, Rea menghela napas lelah. Biar bagaimana pun rasanya memang sulit untuk merahasiakan sesuatu dari lelaki ini. "Tentang kamu, Real," cicit Rea sedikit tak yakin dengan keputusannya untuk mengungkapkan isi pikirannya kepada Real.
Alis Real tertaut sekali lagi. "Ada apa denganku? Is there something just happened?" tanyanya bertubi-tubi.
"Bisa gak kalau kita udahan aja?"
Wajah Real yang dalam kesehariannya selalu rileks mendadak berubah seratus delapan puluh derajat setelah mendengar pertanyaan retoris dari Rea. "Pull back your words," balasnya datar.
Rea tersenyum untuk pertama kalinya pada hari itu. Wajah kaku Real terlihat sangat lucu di matanya saat ini. Maksudnya, ekspresi serius seperti itu sama sekali tidak cocok terpasang di wajah Real yang manis. "Lupain aja," sambung Rea berusaha kembali menenangkan Real yang mulai kalap setelah mendengar permintaan putusnya.
"Rea, bilang sama aku kalau ada sesuatu. Aku siap ngelawan apa pun yang jadi penyebab kamu kayak gini," katanya, dengan kepercayaan diri penuh.
Mungkin dengan memeluk lelaki itu bisa menenangkan perasaannya yang kalut saat ini. Rea merasakan kedua matanya memanas sekarang. "Bahkan kalau itu artinya kamu harus melawan diri kamu sendiri?"
Sontak Real membolakan kedua matanya. "Kamu beneran mau aku mukul diri aku sendiri?" Pertanyaan Real yang begitu polos keluar begitu saja dari bibirnya.
Kepala Rea menggeleng. Ia jadi berpikir ulang tentang usia Real saat ini setelah melihatnya dan segala kepolosannya. "Take your time, Real. Ada banyak gadis cantik di luaran sana. Jauh, ketimbang aku yang hanya sebatas gadis sederhana," jelas Rea mencoba memberikan pemahaman kepada Real.
Senyum hangat terbit begitu saja di bibir Real. Jadi, ini yang dia pikirkan sepanjang hari. Apa mungkin dia mendengar sesuatu yang tidak menyenangkan lagi di toilet kampusnya? "Sederhana artinya sempurna," sahutnya, "Sebenarnya berapa lama kamu mau khawatirin hal-hal semacam itu, Dear?"
Rea hanya mampu terdiam dengan kepala tertunduk menatap hamparan rumput di atas tempatnya duduk saat ini. Tangan Real yang sejak tadi memegang bahunya kini teralihkan ke rahang bawah Rea. Dengan lembut ia membawa wajah gadis itu untuk bertatapan dengannya.
"Jangan ngeliat ke arah lain sekarang. Keep your eye contact with me," pinta lelaki itu dengan suaranya yang dalam. For sake of god, Rea mungkin harus menahan napasnya akibat dari tatapan itu. "You got it?"
Tanpa pikir panjang, Rea segera menganggukkan kepalanya.
"Udah berapa lama kamu kayak gini sih? Kita udah berjalan berapa lama? Gak ada hal, apa pun itu, yang perlu kamu takutin, Rea. I'm only yours, just believe it."
"Udah dong," lirih Rea tak tahan lagi. Ia bisa saja menangis kencang jika Real terus berbicara padanya dengan nada serendah itu. "Just give me a warm hug."
Gelengan kepala menjadi jawaban atas permintaan Rea. "Gak. Kamu harus aku omelin dulu karena udah kebiasaan terlalu dengerin omongan orang. Aku selalu bilang ke kamu kalau kamu ngerasa takut, cukup lihat aku. Kamu harus tahu kalau aku punya kepercayaan yang besar sama kamu. Apa-apaan itu permintaan putus? Kamu punya ide gak betapa stressnya aku gara-gara omonganmu tadi?"
Rea semakin menundukkan kepalanya. Sungguh ia sudah tidak tahan lagi. Jika dalam hitungan lima detik Real tak juga memeluknya, mungkin ia hanya akan terisak begitu saja di depan wajah lelaki itu. "Fine, lanjutkan saja sesuka hatimu." Pada akhirnya isakan Rea pun tak bisa terelakkan lagi.
Gadis itu menutupi seluruh wajahnya dengan telapak tangan. Sampai ia rasakan sendiri sebuah lengan kokoh membungkus tubuhnya ke dalam sebuah dekapan hangat, isakannya justru semakin mengeras.
"Kamu percaya gak sama aku?"
Rea menganggukkan kepalanya pelan dalam dekapan Real.
"Kalau gitu bilang sama aku kalau kamu gak akan khawatir tentang apa pun lagi, terlebih soal hubungan kita. Kamu harus tahu, Rea, semua yang aku mau dari kamu cuma satu. Aku cuma mau menemukan diriku di mata kamu."
-----
Cermin no. 5
Tamat

Comments

Post a Comment