[Cermin No. 4] If You Do
Title:
"IF YOU DO"
"IF YOU DO"
Tokoh: Airin Adinia, Johan Adnan.
"Bagimu, dia hanya seorang teman. Tapi bagiku, dia seperti bajingan yang berusaha menggodamu."
-----
-----
"Aku bilang jangan kemana-mana malam ini. Kamu gak mau dengerin omonganku?"
Johan menggenggam erat ponselnya saat mendapat pesan masuk dari temannya yang melaporkan kekasihnya datang ke pesta ulang tahun temannya. Ia marah pada gadis itu. Jelas sekali ia sudah mengatakan padanya bahwa ia tidak ia beri izin untuk datang ke sana, ke pesta pria itu, atau ke pesta pria mana pun jika bisa.
"Kenapa kamu berlebihan banget sih? Ini tuh ulang tahun temanku!" sanggah Rin dengan suara tajam. Selalu, gadis itu tak pernah membiarkan Johan menang dalam setiap perdebatan yang terjadi di antara mereka.
"Kasih tahu aku, di mana alamatnya?" tanya Johan dengan suara dinginnya. "Sekarang," tekannya sekali lagi.
Lelaki itu dapat mendengar decakan bibir Rin di seberang sana yang jelas-jelas meremehkan kemarahannya saat ini. Harusnya gadis itu tahu betapa khawatirnya ia saat ini. Ini bahkan sudah lewat tengah malam dan gadis itu dengan santainya memperlakukannya seperti ini. Di mana sebenarnya nurani gadis itu?
"Rin, kamu dengar aku? SMS alamatnya ke aku sekarang, biar aku jemput kamu, oke?" Johan menurunkan suaranya, berusaha membujuk gadis keras kepala yang sayangnya sangat ia cintai itu.
Agaknya tidak butuh waktu lama bagi gadis itu untuk berpikir, sebab dalam waktu kurang dari lima detik Johan sudah bisa mendengar jawabannya yang ketus, "Gak mau."
Dua kata itu menjadi akhir dari percakapan mereka karena sesaat setelah dua kata itu terucap dari bibir Rin, gadis itu langsung memutuskan sambungan teleponnya.
Johan sudah berusaha menahan diri saat ini, tapi emosi dan logikanya sedang tak sejalan hingga ia tanpa pikir panjang segera melemparkan bola bisbol yang sejak tadi berada dalam genggamannya dengan keras ke tembok kamar.
Ia kembali memainkan ponselnya dan menghubungi seseorang sekali lagi. Teman yang memberinya laporan tadi.
"Hm. Kenapa lagi?"
"Kasih tahu gua alamat pesta itu, sekarang!" cetusnya tajam.
-----
Johan segera menyambar kunci mobilnya dan meraih jaket setelah mendapatkan SMS berisi alamat tempat di mana kekasihnya sekarang berada.
Karena ini sudah lewat tengah malam, semoga saja polisi terlalu malas untuk patroli malam ini sebab ia berencana untuk menginjak pedal gas mobilnya hingga batas maksimum.
Begitu ia tiba di lokasi, Johan dengan sengaja memarkirkan mobilnya sembarangan dan segera berlari memasuki sebuah rumah besar dengan suara musik yang sangat keras.
Mata elangnya berpendar ke sana ke mari, memastikan tidak ada satu entitas pun yang terlewat dari pandangannya. Lelaki itu membawa langkahnya dengan tegas saat melihat presensi gadisnya yang tengah menari bersama seorang lelaki yang dengan sengaja memusatkan pandangannya pada bagian tubuh gadis itu.
"Sialan!" pekik Johan seraya berlari dan melayangkan pukulannya tepat di rahang pria sialan itu.
Pria itu jatuh tersungkur yang membuat seluruh orang terhenyak. Baru saja kakinya akan melangkah mendekati pria itu lagi saat tangan halus Rin menahan lengannya agar diam di tempat. Mata Johan dan Rin saling berserobok. Keduanya sama-sama melayangkan tatapan nyalang, tak mau kalah. Johan bisa melihat wajah Rin yang memerah menahan amarah, tapi ia tak peduli. Laki-laki itu pantas mendapatkan pukulannya.
"Brengsek!" Pria itu bangkit dan berusaha menghajar balik yang menimbulkan teriakan keras orang-orang di sekitar mereka.
Johan yang masih terfokus menatap Rin pun mendapatkan tinju balasan di pipi kirinya. Rin yang tak menyangka jika pria itu akan membalas pun segera berteriak kepada temannya yang lain agar menahan pria itu.
"Kak, udah!" teriaknya kepada pria itu yang masih berusaha berontak.
Johan mengepalkan tangannya kuat-kuat dan merotasikan matanya, sama sekali tak sudi menatap pria brengsek itu. Tak ia pedulikan rasa nyeri di pipinya saat ia merasakan tangan halus Rin menariknya untuk pergi menjauh.
Gadis itu membawanya menuju kolam renang sebelum akhirnya melepaskan pegangannya dan kembali menatapnya tajam.
"Pergi."
Johan rasanya ingin tertawa keras-keras mendengar kata-kata itu. Ia memang tidak sudi berada di tempat itu, tapi ia jelas tak akan pergi begitu saja dari sana. Tidak, jika Rin juga tidak mau pergi dari sana.
"Apa? Sekarang aku lagi yang salah?" tanya Johan dengan suara beratnya. Emosinya bisa meledak kapan saja jika sedang berhadapan dengan gadis ini.
"Kenapa kamu kaya gini sih?" tanya Johan sekali lagi saat melihat gadis itu memalingkan pandangannya ke arah air kolam. Lama Johan menunggu gadis itu membuka suara untuk menjawabnya, namun sekali lagi, ia diabaikan begitu saja. "Ayo, pulang!" paksa lelaki itu pada akhirnya.
Rin yang tak terima pun segera berontak meminta dilepaskan. "Lepasin! Aku bilang, lepasin! Kamu tuli!?" teriaknya keras dan terus berusaha melepaskan cengkeraman tangan Johan. "Johan!" pekiknya lagi saat merasa diabaikan.
Johan menghentikan langkahnya sejenak. Wajahnya yang sudah mengeras kini menatap wajah penuh amarah Rin dengan berani. "Aku gak peduli. Kamu pulang bareng aku, sekarang!" tegas Johan berusaha keras agar gadis itu tidak terus-menerus membantahnya.
"Kalo kamu gamau lepasin tangan aku sekarang ... kita putus saat ini juga!"
Kepala Johan langsung berpaling untuk sesaat sebelum kembali menatap wajah marah gadis itu dalam-dalam. Langkahnya terhenti di detik yang sama saat kalimat bodoh itu dilontarkan Rin tanpa beban.
Alis kanan Johan terangkat. Dalam hati ia tertawa keras. Menertawakan dirinya sendiri yang entah mengapa terlalu bodoh karena mencintai gadis seperti Rin.
"Ayo pulang."
"Johan!!"
Untuk kali ini saja, Johan berusaha untuk tak peduli. Apa pun yang diucapkan gadis itu malam ini, hanya akan ia anggap angin lalu. Yang terpenting adalah membawa gadis itu pulang dengan selamat.
-----
Rin segera turun dari mobil Johan dan menutup pintu mobilnya dengan keras tanpa mengucapkan sepatah kata apa pun lagi. Gadis itu dengan terburu-buru membuka pintu pagar rumahnya dan berjalan masuk tanpa menoleh sedikit pun ke arah Johan yang saat ini menatapnya penuh harap di balik kursi kemudinya.
Lelaki itu sama sekali tak berniat mengejar Rin yang tengah kalut karena perbuatannya. Ia sudah sangat paham akan perangai Rin yang sangat buruk itu. Johan menghela napas lelah. Dengan cepat ia meletakkan dahinya pada kemudi.
Otaknya terus saja berpikir keras. Ia tidak melakukan kesalahan dengan memaksa gadis itu pulang bersamanya, kan?
Ia sudah melakukan hal yang benar, kan?
Lantas mengapa gadis itu bisa dengan mudah memperlakukannya seperti ini?
-----
Sudah tujuh hari dan Rin masih tidak juga berkenan menerima panggilannya.
Gadis itu terus menghindar dan berkelit saat ia mencarinya ke seluruh fakultas. Selalu tak ada di rumah setiap kali ia berkunjung. Johan benar-benar kehilangan arah saat ini. Pikirannya tak bisa fokus karena gadis keras kepala itu.
Maka dari itu ia melakukan hal ini, menjegal salah satu teman mainnya dan mencoba menanyakan beberapa informasi kepadanya. "Lo tau dia bakal pergi ke mana malam ini?"
Johan dapat melihat gadis di hadapannya saat ini nampak salah tingkah. Apa pun itu, ia tak terlalu peduli. "Eh ... eum ... dia malem ini gak bakal ke mana-mana deh kayaknya, Jo," jawab gadis itu terbata.
Mata elang Johan menatap lekat gadis di hadapannya ini, berusaha mencari celah kebohongan di balik kegugupannya saat ini. Lantas lelaki itu menghela napas lega. "Thanks, Syifa."
-----
Mobil Johan terhenti dengan mulus di depan pagar rumah Rin. Lelaki itu turun dari mobilnya dan memandang ke arah lantai dua, tepat ke arah kamar Rin.
Tangan Johan tergerak untuk menghubungi seseorang walau ia tak yakin panggilannya itu akan dijawab. Mata lelaki itu terbuka lebar saat nada dering sambungan ponselnya terganti dengan sapaan, "Halo?"
Johan tersenyum lebar, seolah baru saja mendapatkan anugerah dari Tuhan. Tangan besarnya berusaha mengalihkan kegugupan hatinya dengan meremas-remas ponsel yang saat ini menempel di telinganya. "Kamu ... lagi apa?" Johan tahu, dia adalah lelaki paling tolol sejagat saat ini karena menanyakan pertanyaan itu.
Bagaimana bisa bibirnya mengucap pertanyaan tak bermutu disaat-saat yang krusial seperti ini? Begitu terus saja Johan merutuki bibirnya.
Orang di seberang telepon Johan berdecak sinis. "Kamu nelepon aku cuma buat nanyain hal yang gak berguna kayak gitu?" kecamnya dengan nada tajam.
Johan dibuat bungkam dengan respon gadis itu.
"Gak penting banget, tahu gak? Aku tutup seka ...."
"Rin, bisa kamu keluar sebentar?" potong Johan dengan lembut.
"Apa? Ngapain kamu nyuruh aku keluar?" Bersamaan dengan pertanyaan itu terlontar, Johan dapat melihat sosok cantik yang memandang ke arahnya melalui jendela kamar. "Ngapain kamu di sana?" tanya Rin sekali lagi dengan suara yang lebih dingin.
"Aku mau bicara sama kamu," jawab Johan yang masih mempertahankan pandangannya tepat di kedua bola mata Rin. "Turun, ya? Aku tunggu." Johan memutuskan sambungan teleponnya saat melihat Rin yang kembali mengunci jendela kamarnya rapat-rapat.
Lelaki itu menghabiskan waktunya menunggu Rin keluar dari rumahnya dengan memandangi layar ponselnya yang mati. Namun begitu ia mendengar suara decitan pagar yang terbuka, Johan terperanjat dan refleks berlari cepat mendekati Rin.
"For sake of god, Airin. I miss you so much!" seru Johan sambil berusaha merengkuh gadis di depannya.
Airin segera menghindar yang membuat dahi Johan mengerut kecewa. "Ngapain ke sini?" tanyanya dingin.
"Rin ...."
"Kamu gaboleh lupa kalo kita udah putus."
"Rin ...."
"Apa pun yang kamu mau omongin, aku harap itu lebih penting daripada chat dari teman-temanku."
"Airin." Gadis itu membatu di posisinya saat kedua telapak hangat Johan melingkupi rahang bawahnya dengan lembut. "Aku sayang sama kamu, karena itu aku memohon pengertianmu. Aku gabisa putus. Gak akan."
Rin mendecih dan segera menepis tangan Johan dari kulitnya. Wajahnya yang selalu menampilkan raut sinis, kini berubah menjadi pandangan meremehkan. Lantas ia melipat kedua tangannya di depan dada. "Pengertian? Soal apa? Soal kamu yang maksa-maksa aku, atau soal kamu yang mukul temen aku?" serbu gadis itu tanpa ampun.
Johan terdiam memandangi wajah Rin yang dipenuhi emosi. Ia menghela napas berat. Berusaha sebisanya untuk menahan emosi yang bisa kapan saja tersulut. "Kalo yang kamu harapkan dari aku adalah permintaan maaf, maaf ... tapi aku gak akan ngelakuin itu. Ngebawa kamu pulang dan kasih sedikit pelajaran ke cowok brengsek itu adalah hal yang memang harus aku lakuin sebagai pacar kamu. Aku sama sekali gak merasa bersalah untuk dua hal itu."
Rin tertawa sumbang mendengar penjelasan Johan yang sangat tak masuk akal baginya. "Tapi cowok yang kamu anggap brengsek itu teman aku!" marah Rin yang mulai hilang kendali. Telunjuk kanannya bahkan teracung ke depan wajah Johan.
Kedua mata Johan membola setelah mendapatkan perlakuan mengejutkan itu dari Rin. "Rin, mungkin di mata kamu dia terlihat seperti teman, tapi di mataku dia kelihatan seperti bajingan yang hendak menelanjangi kamu dengan pandangan matanya," jelasnya cepat dengan tangan yang menggenggam erat lengan Rin.
"Cukup, Jo. Cemburu itu ada batasnya," balas Rin semakin menyudutkan Johan.
Pandangan Johan yang selalu teguh kini mulai goyah setelah mendengar kalimat dingin itu menusuk gendang telinganya. Tangannya yang semula mencengkeram lengan Rin kini perlahan meluruh hingga terlepas dengan sempurna.
"Kamu ... gak akan pernah tahu, Rin. Kamu gak akan pernah mengerti arti pandangan laki-laki terhadap seorang gadis. Kamu mungkin gak tau, tapi aku laki-laki dan aku tahu."
Airin meremas kedua tangannya saat mendengar suara lirih Johan. Ia baru akan mengelak saat suara rendah itu kembali menginterupsi.
"Oke, kalau kamu memang ingin kita berakhir. Kamu menang, Rin. Kamu selalu menang. Ini yang terakhir, aku gak akan datang lagi dan mengemis meminta kamu kembali."
Darah Airin mengalir cepat ke jantungnya hingga setiap detakannya terasa begitu sakit baginya. Mendadak bibirnya terasa kelu saat ia ingin bicara. Rin ingin menampik penglihatannya saat mendapati raut penuh kekecewaan di wajah Johan.
Kakinya seperti mengakar saat ia ingin mengejar lelaki yang saat ini bergerak cepat berjalan memasuki mobilnya. Air mata Rin tiba-tiba menetes begitu saja saat ia melihat mobil Johan melesat pergi dan meninggalkannya sendirian.
Benarkah? Benarkah ini yang ia inginkan? Putus dengan lelaki sepertinya?
-----
Cermin no. 4
Tamat
Cermin no. 4
Tamat
Ceweknya sok iye
ReplyDelete