[Cermin No. 2] No More
Title:
"NO MORE."
"NO MORE."
Tokoh: Arjuna Wiratmadja, Sillia Ariana.
"Tidak lagi. Aku bukan lagi seseorang yang bisa kau jadikan tempat untuk bersandar."
------
------
Terhitung sudah lebih dari 4 bulan, Juna memutuskan kisah asmaranya dengan seorang gadis. Gadis dengan rona wajah putih pucat yang selalu menampilkan warna kemerahan saat ia goda, dulu. Gadis dengan uaran parfum berperisa melon yang menenangkan. Gadis yang berhasil meluluhlantahkan hatinya.
Dulu.
Untuk kesekian kalinya Juna memerhatikan gadis itu melewati kafe tempatnya bekerja. Gadis itu nampak berusaha melihat Juna yang sibuk di balik mesin kopinya. Sesekali netra mereka akan bertemu pandang dan saat itu terjadi keduanya hanya akan memalingkan wajah seolah tak peduli. Hal-hal seperti itu nyaris terjadi setiap hari.
Hingga akhirnya hari ini ia melihat gadis itu terjatuh di sisi jalan setelah seorang pesepeda menyerempet tubuh kurusnya. Juna melihatnya, gadis itu merintih sambil melihat kedua telapak tangannya yang penuh goresan luka. Tanpa mengumpat, hanya merintih. Juna meninggalkan mesin kopinya dan keluar dari kafe tanpa sempat meminta izin. Langkahnya tersubstitusi dengan lari kecil saat melihat bahu gadis itu mulai bergetar.
Lelaki dengan tinggi 183 cm itu mengulurkan tangannya ke arah Sillia, namun saat uluran itu hanya mendapat balasan sebuah tatapan sarat akan keraguan Juna pun berjongkok di hadapan gadis itu. "Kamu emang memiliki nama yang cocok dengan tingkahmu, sama-sama bodoh. Apa yang kamu pikirin sampai bisa tertabrak sepeda seperti ini?" Juna melontarkan kalimat pedasnya sekali lagi.
Ia biarkan gadis itu menangis setelah mendengar suaranya. Tangan Juna menarik gadis itu masuk ke dalam kafe dan menyuruhnya duduk di sana, lantas ia pergi begitu saja diiringi sebuah teriakan keras, "Dilla, obati gadis bodoh yang sedang terluka di sana!"
------
Esoknya Juna dapat melihat dua orang lelaki dan seorang perempuan berusaha memaksa gadis itu masuk ke dalam kafe sambil tertawa bahagia. Boleh dibilang hati Juna serasa mencelos. Melihat banyaknya orang-orang yang begitu menyayanginya membuatnya merasa sedikit lega dan terluka.
Saat melihat senyum gadis itu mengembang, ingatannya akan kenangan saat bersamanya kembali menyeruak. Membuatnya merasa sakit sendiri, membuatnya tersadar betapa pengecutnya dia saat melepas gadis itu pergi begitu saja. Membiarkan gadis itu terus mengharapkannya kembali.
Seolah ada dinding tebal yang mengurung mereka dalam sebuah ruangan, hingga membuat mereka sama-sama terjebak dan tak bisa menjalin hubungan baru dengan orang yang baru. Mereka belum mampu.
Hingga lagi-lagi netra mereka bertautan. Rekahan senyum di bibir Sillia hilang begitu saja. Lagi, Juna merasakan patahan di dalam hatinya.
------
Tepat pukul 10 malam Juna yang kali ini bertugas untuk menutup kafe. Laki-laki dengan pandang matanya yang tajam itu menemukan figur Sillia tepat setelah dia keluar dari dalam dapur.
Juna menghela napas lelah. "Kenapa kamu datang lagi? Kamu gak mengenali angka di jam tanganmu? Kamu tidak lihat sekarang sudah pukul berapa?" cerca Juna membuat gadis itu mengkeret. Ia jelas dapat melihat kaki Sillia perlahan mundur teratur.
"Aku ...."
"Aku sudah berhasil mendinginkan hatiku, Sillia," potong Juna dengan cepat memutus suara Sillia. "Aku sudah gak punya kehangatan apapun lagi yang bisa aku berikan ke kamu."
Sillia memberanikan diri menatap wajah kaku Juna. Ia biarkan air matanya meleleh di depan wajah lelaki dingin itu. "Kak Juna, aku ...," lirihnya dengan suara bergetar.
"Tidak lagi. Aku bukan lagi orang yang bisa kamu jadiin tempat bersandar, seperti dulu." Juna tak mempedulikan isakan gadis itu dan dengan segera meraih pergelangan tangannya. "Ayo, kuantar pulang," ujarnya tak terbantah.
Gadis yang belum bisa menghentikan isakannya itu lekas menepis kasar genggaman tangan Juna. "Gak usah, Kak. Aku bisa pulang sendiri," elaknya dengan suara bergetar. Lantas gadis itu berlari cepat keluar dari kafe.
------
Nyatanya bukan rumah yang menjadi tujuan Sillia setelah lelah berlari. Kerlip terang lampu tamanlah yang justru berhasil memikat kakinya untuk berjalan mendekat dan menduduki salah satu kursinya.
Ia biarkan lelehan air matanya membanjiri kedua belah pipinya hingga menetes membasahi pakaiannya. Ia meraung tanpa peduli jika ada orang lain yang menganggapnya gadis gila. Biarkan dia seperti itu. Setidaknya sampai luka terbuka di dalam hatinya bisa ia tangani.
"Baiklah. Menangislah sepuas hatimu." Seseorang tanpa permisi duduk di sebelah Sillia. Gadis itu sempat melirik ke arahnya dan kembali menutup wajah dengan kedua tangannya. "Aku mengizinkanmu menangis. Hanya jika itu bisa menghapusku dari otak dan hatimu. Hanya jika itu bisa memutuskan semua tautan kusut di dalam hatimu. Menangislah sebanyak yang kamu mau."
Sillia menurutinya.
"Aku tidak cukup berharga untuk bisa kamu tangisi, Sillia. Pria yang dengan pengecutnya meminta berpisah semudah itu sepertiku hanya bisa menorehkan luka di hatimu. Karena itu berhenti menangis, berhenti mengharapkanku kembali. Aku bukan orang yang sama yang menghabiskan hari-harinya bersamamu dulu, bukan."
"Hiduplah dengan bahagia. Buktikan padaku bahwa kamu bisa bahagia, tanpa aku."
Juna menangkup tubuh kecil Sillia ke dalam dekapannya. Dekapan yang sama yang membuat hati keduanya terasa menghangat. "Hanya malam ini. Aku akan memelukmu, hanya untuk malam ini."
-----
Cermin no. 2
Tamat
Cermin no. 2
Tamat
Kenapa gak balik lagi aja sih!!
ReplyDelete