[Cermin No. 1] Tell Me You Love Me

Title:
"TELL ME YOU LOVE ME."
Tokoh utama: Raka Pradipta, Aluna Purnama.
"Aku menyapamutapi kulihat kau tak menyambutnya lagi."
------

------
Aluna tersenyum saat netranya melihat sebuah busway yang selalu membawanya ke sekolah hampir tiba di hadapannya. Ia berdiri lebih dekat ke sisi jalan agar bisa masuk lebih dulu dan mendapat tempat duduk sebelum direbut oleh siswa lain.
Saat bokongnya baru saja mendarat di sebuah kursi, seseorang dengan cepat merebut kursi di sebelahnya. Aluna tersentak, sejenak ia melirik figur di sisinya dan tanpa sadar membelalakkan matanya. "Hai?" Sapa gadis itu kaku.
Lelaki di sebelahnya hanya diam seolah tak mendengar.
Aluna kembali memamerkan senyum kaku. Siswa pemilik rahang tegas dengan hidung bangir yang mengenakan seragam serupa dengan Aluna itu agaknya enggan untuk membalas sapaannya.
Gadis itu mengalah, ia membiarkan pria tampan itu dan lebih memilih mengenakan earphone di kedua telinga. Saat jari Aluna bergerak lincah untuk memilih lagu di ponsel, sebuah tangan meraih sebelah earphone-nya dan memasangnya di telinganya sendiri. Aluna terkejut, jelas sekali.
Lelaki di sisinya menoleh sambil menggerakan dagunya seolah bertanya 'Ada apa?melalui gerak tubuhnya. Aluna menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Ia membiarkan lelaki itu ikut mendengar lagu-lagu yang mengalun melalui earphone-nya.
------
Aluna mengerucutkan bibirnya saat melihat lelaki dengan tubuh tinggi tegap itu berjalan meninggalkannya setelah turun dari busway. Namun hanya sampai di sana, sebab gadis itu sama sekali tak punya keberanian untuk mengejarnya. Ia hanya bisa memandangi punggung lebarnya dan membiarkan lelaki tampan itu pergi memasuki sekolah mereka.
Gadis itu tersenyum tipis. "Dia hanya berpura-pura dingin kepadaku, kan?" gumamnya pelan dan perlahan melangkahkan kakinya.
------
Istirahat hampir berakhir. Aluna yang baru menyelesaikan bacaannya di perpustakaan lekas berderap keluar ruangan penuh buku itu dengan terburu-buru. Saat ia hendak berbelok ke arah kanan, ia terkejut mendapati sosok lelaki itu tengah duduk santai di depan perpustakaan. Bibir gadis itu baru akan mengujar sebuah sapaan sebelum lelaki itu bergegas pergi meninggalkannya begitu saja.
Tidak bisa lagi. Aluna tidak bisa lagi membiarkan lelaki itu bersikap seperti ini lagi. Jadilah setelah ia mengumpulkan keberanian sebanyak mungkin, ia pun memberanikan diri untuk memanggil nama anak lelaki itu, "Raka!"
Binggo! Lelaki bernama Raka itu terdiam di tempatnya, menunggu gadis itu berjalan mendekatinya tanpa perlu repot-repot menolehkan kepalanya. Aluna berjalan sedikit lebih dekat ke arah Raka.
"Tentang yang semalam ...," ucap gadis itu dengan nada penuh kehati-hatian.
***
Benar, tentang semalam. Saat sebuah ID tak dikenali mengirimkan pesan Line kepada Aluna dan memintanya bertemu di dekat persimpangan rumahnya membuat Aluna kebingungan sendiri.
Saat ditanya siapa, orang itu tidak membalas pesannya lagi.
Gadis itu sama sekali tidak berniat mengikuti permintaan sosok misterius yang mengiriminya pesan. Namun rasa penasarannya berhasil mengalahkan ketakutan dalam dirinya yang mengira sosok itu adalah penjahat yang hendak melukainya.
Saat Aluna sampai di persimpangan itu dengan jaket tebal yang membungkus tubuh kecilnya, netranya tak mendapati siapapun di sana. Hanya ada lampu jalan dan beberapa kendaraan yang berlalu lalang. Gadis berambut sebahu itu merutuki kebodohannya sendiri. "Bisa-bisanya aku tertipu," gumamnya pelan sambil tertawa kecil.
Begitu menoleh, ia terkejut mendapati sosok Raka tengah berdiri sambil menatapnya dalam. "Hai?" sapa lelaki itu pelan.
Aluna tertegun, lantas mengedarkan pandangannya menyapu seluruh area itu dan begitu ia mendapati hanya dirinyalah sosok yang bisa diajak bicara di sana, ia pun menggunakan jarinya untuk menunjuk dirinya sendiri.
Raka tersenyum, senyum yang pertama kali ia tunjukkan di hadapan Aluna selama 2 tahun sekolah di sekolah yang sama, lantas menganggukkan kepalanya.
"Kamu Rakakan?" tanya Aluna memastikan. Pasalnya Aluna dan Raka tak pernah berada dalam kelas yang sama semenjak pertama kali menginjakkan kaki di sekolahnya. Jangan tanya bagaimana Aluna bisa tahu nama lelaki itu, bahkan jika ada yang bertanya kepada seluruh warga sekolah dengan sebuah pertanyaan 'Apa kau mengenal Raka Pradipta?', ia pasti akan langsung mendapatkan jawaban paling detail, bukan hanya sekadar anggukan semata. "Kamu yang ngirim pesan ke Line-ku?"
Raka mengabaikan pertanyaan itu. Ia mengeluarkan setangkai bunga yang sejak tadi tersembunyi di balik punggungnya membuat dahi Aluna mengernyit.
"Aku hanya mengatakan ini sekalijadi dengarkan baik-baik." Raka menjeda ucapannya dan menatap lekat manik semanis karamel milik Aluna. "Aku menyukaimuAluna Purnama."
***
Raka menoleh setelah mendengar intro dari perkataan Aluna. Lelaki itu masih betah menatapnya datar membuat nyali Aluna kembali menciut. "Kenapa?" tanya Raka begitu ia melewati menit-menit waktu namun Aluna tak melanjutkan ucapannya.
"Kamu bilang kamu suka sama aku," lanjutnya takut-takut. "Biarpun sekarang kamu bersikap seolah gak terjadi apa-apa, kamu tetap harus tahu kalau aku perlu kepastian dari kata-kata kamu," jelasnya lagi.
"Kamu ... beneran suka sama aku?" tanyanya lagi sambil menatap wajah datar Raka.
Raka diam. Selanjutnya Aluna dapat mendengar helaan napas yang dikeluarkan Raka. "Sudah kubilang, aku hanya mengatakannya sekali," jawab lelaki itu.
Aluna menundukkan kepalanya, tidak berani membalas tatapan mata sekelam malam milik Raka.
"Semuanya sudah jelas, terhitung sejak 14 jam yang lalu," katanya sambil memerhatikan jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Jadi, kepastian apa lagi yang kamu butuhin?"
Rahang Aluna nyaris terjatuh ke lantai setelah mendengar jawaban Raka.
"Ra-Raka ...."
"Ayo, kuantar ke kelasmu."
Raka berjalan lebih dulu meninggalkan Aluna dengan kebingungannya. Saat tersadar, Aluna segera berjalan menyusul langkah kaki Raka yang sudah jauh. Ia tak berani menyamakan langkahnya dengan lelaki itu dan memutuskan untuk berjalan di belakang tubuhnya.
Ketika ada seseorang yang berteriak memanggil nama Raka, lelaki itu pun menghentikan langkahnya yang membuat kepala Aluna terbentur punggung luas miliknya sebab gadis itu terus saja menundukkan kepalanya saat berjalan tadi.
"Raka!" Divia, kakak kelas mereka berjalan cepat mendekati posisi mereka saat ini. Gadis tinggi semampai dengan rok pendeknya itu terkejut mendapati presensi Aluna di belakang tubuh Raka. "Kamu diikutin penggemarmu tuh!" Gadis itu menunjuk Aluna menggunakan dagunya.
Aluna langsung gelagapan. Buru-buru ia hendak pergi dari sana, namun tangan Raka lebih cepat ketimbang langkah kakinya. Tubuhnya menegang. Bukan hanya Aluna yang nampak syok, Divia pun demikian.
"Siapa yang Kakak maksud penggemarku?" tanya Raka datar.
Divia hanya diam.
Melihat diamnya Divia membuat tangan Raka tergerak untuk merangkul bahu Aluna dan mendekatkan bibirnya ke telinga gadis itu. "Sayang, kayanya ada yang salah paham sama kamu di sini. Makanya lain kali jangan jalan di belakangku, kamu itu pacarku bukan pengikutku. Jadi kamu harus berjalan di sampingku, seperti sekarang," bisiknya dengan suara yang cukup keras. Sengaja agar Divia bisa mendengarnya.
Lelaki itu pun segera membawa pergi Aluna dari sana.
------
Ketika langkah mereka sampai di depan kelas Aluna, Raka hendak pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata apapun.
"Maaf," ujar Aluna pelan. Raka kembali menoleh dan menatap Aluna yang kini tengah meneliti penampilannya sendiri. "Aku pasti malu-maluin kamu tadi. Dia pasti mikir kalau aku sama sekali gak pantas buat jalan di sisi kamu."
Raka yang sempat merasa bingung dengan tingkah Aluna langsung mengerti setelah mendengar penjelasannya. Lagi-lagi Raka berjalan mendekati Aluna dan mengusap rambutnya lembut. "Kamu berpikir kalau aku lelaki semacam itu?" Pertanyaan itu membuat bibir Aluna bungkam.
Sontak gadis itu menggelengkan kepalanya.
"Kalau begitu tidak usah dipikirkan." Raka memutar tubuh Aluna dan memegangi bahu gadis itu. "Sekarang masuk dan belajar yang rajin."
-----
Cermin no. 1
Tamat

Comments

Post a Comment